Salib…oh, salib


Pada zaman dahulu, salib dipakai untuk menghukum mati seseorang. Terbuat dari dua buah kayu yang kokoh dan kuat, sehingga dapat menopang tubuh manusia, disambungkan dan ditancap didalam tanah. Manusia digantung diatas kayu salib dan dibiarkan mati perlahan-lahan. Mengalami kesakitan yang berlangsung lama hingga maut yang berkuasa. Tidak makan, tidak minum, kepanasan, kelelahan, kesemutan, mati rasa dan akhirnya mati. Hukuman yang paling keji dan tidak berprikemanusiaan.

 

Terkutuklah orang yang mati diatas kayu salib. Dan itulah yang dipilih oleh Allah untuk AnakNya yang terkasih. Ia yang tidak menyayangkan AnakNya demi kita, manusia yang hina, penuh dosa dan kejahatan, yang jijik, yang kotor dan tak layak dihadapanNya.

 

Untuk apa Allah melakukan semua itu? Jawabannya : Oleh karena KASIH.

Kejamkah Allah hanya karena kasihNya maka AnakNya harus mati demikian diatas kayu salib? Jawabannya : Bukan Allah yang kejam. Allah adalah Kasih. Bagaimana mungkin Ia kejam? Tapi pemberontakan kita, kejahatan kita, dosa kita, kebencian kita, kemarahan kita, yang telah membuat Yesus, Anak Allah, harus mati demikian, Kitalah penyebab Yesus mati terkutuk diatas kayu salib. Kitalah yang telah menghukum Yesus demikian.

 

Salib…, oh salib…, engkaulah lambang kasih Yesus bagi kami. Engkaulah lambang kekuatan kasih Allah bagi kami. Setiap kali kami memandangmu, kami selalu ingat akan kasih Allah buat kami. Kemanapun kami pergi, dan kemanapun kami bawa, dan dimanapun kami melihat, kami selalu ingat bahwa kami harus membagikan kasih itu pada orang lain. Orang lain juga harus dapat merasakan kasih yang telah kami terima dari Tuhan Yesus. Kasih yang dapat mengubah hidup orang lain, kasih yang dapat mengampuni, kasih yang tidak menuntut balas, agar hidup orang lain pun mengalami perubahan (transformasi) seperti kami.

 

Salib, engkau saksi bisu bukti cinta Yesus buat manusia di bumi ini. Andai engkau bisa berbicara, apa yang akan engkau katakan buat kami? Aku rasa….hanya air mata yang mengalir…dan setiap tetesan air mata mengatakan segala sesuatu yang tak terucapkan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s