Kuasa Tuhan melalui Talita


tabita

Talita adalah seorang istri yang bahagia. Ia hidup dengan seorang suami yang sangat mengasihinya. Meskipun mereka belum dikaruniai anak, namun kehidupan rumah tangganya tetap harmonis. Talita adalah seorang ibu rumah tangga. Pekerjaan suaminya adalah pelaut/nahkoda. Setiap dua bulan sekali suaminya pergi bertugas. Namun demikian suaminya adalah seorang yang setia. Ia benar-benar mengasihi Talita. Setiap  kali suaminya pulang dari dinasnya, selalu membawa oleh-oleh kesukaan buat Talita, baik berupa cinderamata ataupun makanan. Usia pernikahan mereka sudah tiga tahun. Talita belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Mereka tidak menyerah. Mereka terus berdoa dan percaya bahwa kelak Tuhan akan memberikan seorang anak kepada mereka. 

 

Suatu ketika suami Talita pergi dinas keluar negri. Ditengah perjalanannya tiba-tiba mereka mengalami cuaca buruk. Badai datang, ombak yang tinggi terus menerjang kapal tersebut, kapal mereka terombang-ambing tidak menentu, hingga akhirnya kapal tersebut tenggelam.

 

Talita sedang asyik menjahit baju. Telepon rumah berdering. Talita mendapat kabar suaminya telah meninggal. Talita mengalami shock berat. Ia terdiam sejenak. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Masih terngiang suara suaminya berbicara pada dirinya. Dan kini ia harus kehilangan suaminya untuk selamanya. Talita berteriak lalu menangis. Ia sangat sedih dan terus menangis. Talita tidak tahu harus bagaimana. Ia merasa kehilangan suami yang sangat mengasihinya. 

 

Sebulan telah berlalu. Talita masih dilanda kesedihan yang amat dalam. Ia tidak habis berpikir mengapa Tuhan tidak begitu adil terhadapnya? Bukankah mereka berdoa untuk diberikan momongan, tapi mengapa justru suaminya diambil oleh Tuhan. Terkadang Talita duduk dengan tatapan yang kosong dan terus menyalahkan Tuhan.

 

Melihat keadaan Talita yang mengenaskan, seorang ibu, tetangganya, mengajak ia pergi kegereja. Awalnya Talita tidak mau. Tapi karena ketulusan hati ibu ini akhirnya Talita mau pergi ke gereja. 

 

Hari ini Talita mendapatkan satu Firman Tuhan, yaitu Yeremia 29:11 “ Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Talita merenungkan firman Tuhan ini dan hati Talita mendapatkan damai sejahtera. Talita minta ampun sama Tuhan atas sikapnya selama ini. Talita memutuskan untuk hidup sebagai seorang janda.

 

Talita rajin membaca firman Tuhan, terlibat pelayanan dan rajin ke gereja. Saat teduh menjadi gaya hidup Talita. Kehidupan sehari-hari TAlita adalah menjahit , dan kini Talita pun mulai belajar membuat kue jajanan. Hasil jerih payah Talita cukup untuk kehidupan sehari-harinya. Talita hidup mandiri. Talita menjadi seorang ibu yang kuat dan berani menjalani hidup ini.

 

Suatu hari Talita membaca berita warta gereja. Berita itu tertulis “Dibutuhkan sukarelawan misi untuk para nelayan disebuah kota kecil”. Hati Talita tergerak. Talita berdoa pada Tuhan dan akhirnya Talita memutuskan menjadi sukarelawan tersebut. 

 

Sampai di tempat itu bersama dengan rombongan sukarelawan yang lain, Talita diajak berkenalan dengan masyarakat disana. Ternyata masyarakat tersebut rata-rata adalah para janda atau anak yatim. Kehidupan masyarakat disana adalah nelayan. Para suami biasanya bekerja dilaut dengan perahu kecil. Kebanyakan dari mereka  telah meninggal saat berlayar. Oleh karena itu para janda dan anak yatim mengalami kekosongan hidup dan arah tujuan hidup yang tidak pasti. Mereka kehilangan pegangan hidup.

 

Talita terketuk hatinya melihat kondisi yang memprihatinkan ini. Talita berdoa pada Tuhan Yesus. Dan kemudian Talita mengajukan diri untuk membantu para janda dan anak yatim dengan mengajarkan mereka menjahit dan membuat kue. Talita tidak menemui kesulitan mendekati para janda ini. Talita tahu apa yang mereka rasakan. Talita mengerti apa yang mereka alami. Talita berempati terhadap mereka. Talita merasa kasihan begitu terpuruknya kehidupan para janda ini. Talita rindu mereka mengalami kemerdekaan bahwa  hidup seorang janda bukanlah akhir segalanya, tapi Tuhan punya rencana hidup yang damai sejahtera untuk setiap manusia, termasuk mereka. Inilah kebenarannya. 

 

Dengan jarum dan benang Talita ajarkan mereka menjahit. Beberapa janda lainnya, Talita ajarkan juga membuat kue. Hasil jahitan ada yang dipakai sendiri, ada yang dijual. Hasil buatan kue, sebagian dimakan , sebagian lagi dijual.

 

 Hari demi hari terus berlalu. Hasil produktivitas mereka semakin baik dan bertambah. Mereka mejadi sangat dekat dengan Talita. Mereka hidup rukun dan damai. Mereka berbagi cerita mengenai kehidupan mereka. Saat inilah Talita berbagi kesaksian hidupnya mengenai kasih dan pertolongan Tuhan Yesus dalam hidupnya. Tangan Tuhan yang selalu menyertainya dan memelihara hidupnya semenjak ia menjanda. Tangan Tuhan yang sudah memulihkan hidupnya dari keterpurukan kesedihan, dan tangan Tuhan lah yang menuntun hiduppnya. Tak lupa Talita ajarkan mereka berdoa, bernyanyi dan memuji Tuhan. Mereka bersukacita didalam Tuhan.

 

 Setahun pun berlalu….

 

 Suatu ketika Talita jatuh sakit. Awalnya demam, tapi semakin hari keadaan Talita memburuk. Belum sempat dipindahkan kekota besar, Talita meninggal. Para janda dan anak yatim menangisinya. Mereka mengasihi Talita dan merasa kehilangan Talita. Mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi, kecuali menangisi  kematiannya .

 

Kemudian para janda itu ingat bahwa Talita pernah mengajari mereka berdoa. Dan Talita pernah berkata bahwa Tuhan Yesus selalu mendengar setiap doa manusia. Maka berkumpullah mereka dan menaikkan doa pada Tuhan Yesus. Mereka membuka hati pada Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memang dasyat!  Dengan iman mereka, akhirnya kuasa Tuhan Yesus bekerja.

 

Tiba-tiba Talita batuk.

Oh…Talita hidup!

Talita hidup kembali!

Talita bangkit dari kematiannya. Semua orang yang melihat Talita hidup kembali merasa takjub dan menjadi percaya pada Tuhan Yesus. Haleluya, Amin!

 

Note : Diambil dari Kisah Para Rasul 9: 36-42

Note : Naskah ini diikutsertakan dalam lomba writing competation CIBfest 2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s