Kasih Yesus


saat teduh

Jam 5.30 Wib, alarm Hp ku berbunyi…musik mengalun lembut dari HP-ku, memanggilku untuk segera bangun. Sudah saatnya datang kepada Tuhan, menyapaNya dan berkomunikasi dengan Nya. Saat Teduh adalah saat yang kutunggu-tunggu. Aku segera bangun dan menyalakan sebuah lampu meja. Aku mengambil sebuah Alkitab, sebuah buku renungan, catatan buku, dan kumpulan ayat-ayat emas. Aku berdoa, mengucap syukur atas perlindunganNya saat kutidur, pemeliharaanNya hari ini, dan kasihNya yang baru untukku hari ini. Mulailah aku membaca sebuah cerita renungan sebagai pedomanku hari ini. 

Kasih Yesus. Itu yang kudapat hari ini. Itulah topik yang akan ku bahas, kuselami, dan kutulis dalam catatan buku saat teduhku. Kasih Yesus, sudahkah aku mengenal kasihNya? Sudahkan aku merasakan kasihNya? Sudahkah aku menerima kasihNya? Sudahkah aku mengasihiNya?

Ya, sudah! Aku sudah mengenal kasihNya. Aku sudah merasakan dan menerima kasihNya. Aku mengasihiMu, Yesus. Sangat mengasihi. Bagaimanakah engkau mengenal Kasih-Ku, dan dengan cara bagaimanakah engkau mengasihi Aku? Aku mendapat pertanyaan dari Yesus. Tuhan, sampai saat ini aku masih bernafas, itu karena kasihMu. Aku punya keluarga yang baik, orangtua yang istimewa, saudara-saudara yang baik, teman-teman yang baik, pelayanan, pekerjaan, berkat, itu karena kasihMu. Matahari yang memancarkan sinarnya, burung gereja yang beterbangan, awan yang cantik-cantik, pohon-pohon hijau dan bunga yang bermekaran, itulah kasihMu. Aku sudah merasakan kasihMu, Tuhan. Dan kasih yang sempurna adalah pengorbananMu diatas kayu salib untuk menebus diriku dan orang-orang yang aku kasihi dan orang-orang yang mengasihi aku. Karena kasihMu, Tuhan, hidupku dipulihkan, disempurnakan. Kau beri aku kasih, damai sejahtera, sukacita surgawi, itulah kasihMu, Tuhan.

Setiap hari aku membaca firmanMu, kutemukan kasih didalamnya. Engkau mengatakan bahwa sejak dalam kandungan ibuku, Engkau telah mengenal aku. Siapakah yang dapat berbuat demikian? Hanya Engkau, Tuhan! Engkau merajut aku dalam kandungan ibuku. Engkau menjagai aku, melindungi aku dengan kedua tanganMu. Sentuhan kasihMu sangat kurasakan, Tuhan, walau aku masih bayi yang lemah. Dengan kasihMu, Kau kenyangkan aku hingga aku besar. Kau tidak pernah melepaskan aku. Aku hidup dengan perlindungan kasihMu. KasihMu menyelimuti hidupku, agar aku tidak merasa dingin dan tidak merasa kepanasan. Engkau setia, Tuhan. Itulah kasihMu. 

Ketika orang-orang menolak aku, Engkau tidak bergeming. Ketika orang-orang meninggalkanku, Engkau tetap menemani aku. Ketika orang-orang membohongiku, Engkau tidak mencela aku. Ketika orang-orang menyakitiku, Engkau…mendekap aku. Tidak pernah sekalipun, Engkau membuat aku kecewa. Itulah kasihMu, Tuhan. 

Dalam rancanganMu, segala sesuatu Engkau buat baik bagi diriku. Tidak pernah Engkau merancangkan kecelakaan dan kejahatan selama hidupku. Engkau tidak pernah menyimpang dan rancangan dan rencanaMu semula untuk diriku. Engkau sabar terhadap aku, padahal berkali-kali aku berkehendak atas diriku sendiri. Aku punya rancangan sendiri yang baik buatku, itu pikirku. Engkau tidak mentertawakanku, tapi Kau beri aku lebih dari yang kurancangkan. Kau tidak pernah memaksaku untuk seturut denagn rancanganMu, tapi Kau beri aku pilihan, pilihan yang terbaik atau pilihan yang baik. Aku memilih pilihan Engkau, Tuhan, pilihan yang terbaik. Ada yang terbaik, mengapa memilih yang baik? 

Kau proses aku Tuhan, seperti tukang periuk yang hendak membuat suatu bejana. Bejana yang indah dan berguna. Bejana yang bernilai tinggi dan tidak ada duanya. Andai bejana itu rusak dalam prosesnya, Engkau tidak membuangnya. Engkau tidak pernah menganggap bejana itu telah menjadi sampah. Tapi Kau bentuk ualang hingga menjadi bejana yang baru dan tetap terbaik, tetap bernilai tinggi, dan tidak ada duanya. Itulah kasihMu, Tuhan! Engkau tidak pernah menyerah atas ciptaanMu. Engkau tidak pernah membiarkan kami jatuh tergeletak. TanganMu yang kuat dan kokoh siap menopang kami. Tangan kasihMu, Tuhan… Sekalipun bejana-bejana itu banyak Engkau hasilkan, tapi Engkau tidak pernah membiarkannya dan menaruhnya di gudang. Tapi Engkau pelihara, Engkau jagai, Engkau bersihkan dan Engkau pakai untuk sesuatu yang Kau pandang baik. Engkau tidak pernah gagal, Tuhan. Sekali Engkau pakai, maka bejana itu bernilai tinggi. Bejana itu memiliki fungsinya. Dan tidak pernah Engkau sia-siakan. Tidak ada satupun bejana Engkau taruh dalam gudang, tapi terus Engkau pakai untuk kemuliaan namaMu. Engkau tidak pernah membuat kami secara sia-sia. Itulah kasihMu, Tuhan. KasihMu tidak berkesudahan, kasihMu kekal selama-lamanya. Tiada kasih dibumi seperti kasih Engkau, diatas langit dan dibawah bumi, juga tidak ada. Kiranya segenap bumi mengenal kasihMu.

Bagaimanakah engkau mengasihi Aku?

Tuhan, aku mengasihi Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Aku datang mencari Engkau, duduk diam dibawah kakiMu, mendengarkan firmanMu. Aku haus akan Engkau, Yesus! PekerjaanMu tak terselami pikiranku, tapi aku memilih untuk mentaati firman-Mu.

Pagi-pagi aku bangun, datang ke pelataranMu dengan korban syukurku. Itulah yang menyenangkanMu. Ya, Tuhan, dengan menyenangkanMu, itulah bagianku. Dengan cara apa engkau menyenangkan-Ku? Dengan mentaati 2 perintahMu :

  1. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan.
  2. Kasihilah manusia seperti dirimu sendiri.

Dengan tubuh, jiwa dan rohku, aku menyembah Engkau. Dengan menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamatku, aku mengasihi Engkau. Percaya padaMu dan taat pada firman-Mu. Aku tahu itu tidak cukup, Tuhan. Ini hatiku, Engkau tahu. Engkau mencari penyembah-penyembah yang benar. Inilah aku, Tuhan, datang untuk menyembahMu, memujiMu dan menjadi hambaMu. Itu semua tidak cukup, Tuhan. Semua hanya oleh karena anugerahMu. Semuanya anugerah dan kasih karuniaMu, Tuhan. Oleh karena anugerahMu, aku menjadi penyembahMu. Damai sejahtera meliputi hatiku. Ku tahu itu benar, Tuhan! Terima kasih, Yesus! Terima kasih! Oleh anugerahMu, Tuhan, aku dapat mengasihi Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan. Aku disini, Tuhan..

Yesus, bagaimanakah aku bisa mengasihi manusia seperti diriku sendiri? Rasanya sulit, Tuhan. Yang ada dibenakku adalah pengampunan. Apakah Engkau ingin mengatakan bahwa pengampunanlah yang dibutuhkan oleh manusia sebagai bentuk kasih? Mengapa tidak? Tidak setiap orang bisa mengampuni, bahkan terhadap diri sendiri. Kalau ia tidak bisa mengampuni diri sendiri, bagaimana ada kasih didalam dirinya? Bagaimana pula ia mengasihi orang lain, kalau ia sendiri tidak dapat mengasihi dirinya sendiri? Pengampunan, itulah kuncinya.

 Bapa di Surga sudah mengampuni kita dengan memberikan AnakNya, Yesus,untuk mati diatas kayu salib menggantikan kita yang layak mati sebagai upah dosa yaitu maut. Asal kita mau datang pada Yesus, mengakui dosa kita dan mohon pengampunan padaNya, maka Ia mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Yesus ingin kita pun seperti itu terhadap sesama manusia. Bahkan sebelum matahari terbenam, kita harus mengampuni orang itu, meskipun orang itu tidak datang pada kita untuk meminta maaf, apalagi mengakui kesalahannya. Yesus ingin agar kita, anak-anakNya, segera memberikan pengampunan, karena Ia sudah mengampuni kita, dan membuangnya jauh ke tubir laut. Ia tidak pernah memperhitungkan segala dosa dan pelanggaran kita. Melalui pengorbananNya dikayu salib, Ia sedang menunjukkan bahwa itulah dasar kasih Tuhan. Yesus memberikan perintah pada kita untuk mengasihi sesama kita karena Ia pun mengasihi manusia.

 Tuhan, dalam melakukan saat teduh ini, yang tidak dibangun dalam satu hari saja, tetapi berhari-hari, oleh karena ketekunan menanti-nantikan Engkau, aku merasakan ada aliran air hidup dalam diriku. Seperti rusa rindu sungaiMu, begitulah jiwaku. Dan Engkau puaskan aku dengan kasihMu, Air hidupMu. Terima kasih Tuhan. Aku rindu setiap anakMu melakukan saat teduh, bertekun mencari Engkau, dan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang tidak kering dan layu daunnya, tapi berbuah pada musimnya. Terima kasih, Tuhan untuk topiknya hari ini. Sungguh luar biasa. Aku mendapatkan berkat, Tuhan.

Ayat emas hari ini adalah 2 Petrus 3: 9

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Haleluya, Amin.

Note : Naskah ini diikutsertakan dalam lomba writing competation CIBfest 2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s