Dewa Klasik Alexander: Mutiara di Pemukiman Kumuh


dewaklasikNama pemuda ini memang unik. Wajar saja kalau orang mengernyitkan dahi ketika pertama kali mendengarnya. Kisah hidupnya pun tak kalah unik. Masa kecil dan remajanya banyak dihabiskan di luar negeri. Kini, lebih setengah tahun ia memilih hidup di lingkungan kumuh. 
Senin, pertengahan Juli, udara sore terasa menyengat. Lalu lintas di sekitar ITC Roxy Mas Jakarta, padat dan semrawut. Klakson mobil memekakkan telinga bersahutan. Entah karena nggak sabaran atau pengguna jalan lain yang keterlaluan. Angkot ngetem semau gue, ojek mengambil jalan berlawanan bahkan naik ke trotoar. Suara bajaj yang tak pernah lembut mengepung di semua sisi jalan. Ditambah lagi saat kereta api melintas….O, Jakarta! 

Mengajar di ruang sempit
“Ko Dewa sakit…” kata Frendy yang menjemput Bahana di depan pertokoan handphone. Siswa kelas 2 SMA itu adalah salah satu adik rohani Dewa. Kami berjalan menuju base camp House of Mercy (HOME) tempat belajar bersama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tinggal di daerah kumuh RT 02 RW 08 Kel.Duri Pulo, Kec. Gambir. Rumah-rumah papan semi-permanen itu berada di antara rel kereta dan kali yang airnya sangat hitam. Di tempat itulah Dewa tinggal. “Saya kenal Ko Dewa dari teman. Penasaran, saya ikut. Melihat dari dekat bagaimana Ko Dewa membantu belajar anak-anak,” jelas Frendy ramah. Kami melewati deretan rumah sangat sederhana. 

Perawakan Dewa tinggi kurus. Dibalut kemeja batik. Berkali-kali batuk. Wajahnya kemerahan. Ia menyelimuti tubuhnya yang demam dengan bed cover. Kami duduk di papan beralas karpet. Ruangan berukuran 2×5 meter terasa sempit karena penuh barang. Lemari, buku-buku, tas milik adik-adik rohani Dewa yang sedang mengajar di ruangan atas, dan kantong plastik berisi makanan kering. “Kami akan punya tempat baru di depan. Ruangan ini akan dipakai rumah singgah. Kami memang belum bisa menyediakan makan. Tapi bisalah untuk tempat tinggal beberapa pengamen atau siapa saja yang butuh,” tutur pria kelahiran Malaysia, 27 Maret 1988 ini.

Di ruang atas, Yun Fhalie (18) lulusan SMAN 2 sedang mengajar bahasa Inggris. Kadang terdengar tawa lepas dari anak-anak yang diajar bila salah mengeja kata. Fhalie ikut tertawa dan dengan sabar memperbaikinya. Tanpa sekat dua orang mengajar matematika. Di ruang belajar itu mereka duduk berdesakan. Maklum, ruang sekecil itu diisi dengan 13 anak dan 4 pendamping yang oleh anak-anak dipanggil kakak. Semua tenaga sukarela yang kebanyakan mengenal Dewa melalui Facebook.

Berasal dari Keluarga Jetset
Dewa anak sulung dari empat bersaudara. Lahir dalam keluarga yang berpengaruh dan sangat berkecukupan. Karena orangtuanya masih muda dan menempuh pendidikan lanjut, Dewa kecil hidup bersama kakek dan neneknya di Malaysia. “Opa bekerja di kedutaan Malaysia. Dapat tugas ke beberapa negara. Jadi hidupku berpindah-pindah dari negara satu ke negara lainnya. Yang bisa kuingat aku pernah tinggal di Ceko, Turki, Uzbekistan, Denmark, Canada, Thailand dan Meksiko,” kisahnya.

1998. Setamat SD barulah Dewa pindah Jakarta, mengikuti orangtuanya. Ia bersekolah di sekolah bergengsi bertaraf internasional. Remaja dengan uang saku berlimpah, jutaan. Rasanya apa saja yang dia mau, bisa dibeli. Dalam satu kesaksian Dewa pernah berkata ketika SMP ia adalah satu-satunya siswa yang membawa mobil Ferarri ke sekolah. Wow! 

Pergaulan Dewa pun berada di lingkungan jetset. Kelas ekonomi papan atas. Ibarat kata, apa saja yang menempel dari ujung kepala sampai ujung kaki barang branded. “Aku bergabung di agency model. Dari sanalah kenal dunia malam. Di usia sangat muda aku merokok, minum alkohol, free sex, dan Narkoba,” akunya. 

Perjumpaan Pribadi
Dewa tak cuma kaya tapi juga brilian. Tahun 2003, di usia 15 tahun, ia kuliah di Oxford University, London. Di kampus, ia merasa tak nyaman karena umurnya paling muda. Teman kuliahnya lebih tua beberapa tahun. Setelah dua semester Dewa berniat cuti kuliah dan akan balik setahun kemudian. Sebelum pulang ke Indonesia, Dewa jalan-jalan ke toko buku. Kesukaannya memang membaca.

Tiba-tiba ia tertarik pada buku The Purpose Driven Life yang ditulis oleh Rick Warren, buku best seller yang sudah mengubah hidup banyak orang. Dewa membaca judul demi judul bab di buku itu. Matanya berhenti pada bab ke 9: “What Makes God Smile”. Judul yang sangat aneh. Tuhan bisa tersenyum? Aneh. Sungguh aneh. Tuhannya orang Kristen bisa tersenyum? 

Pulang ke Indonesia, Dewa mencoba mencari jawaban atas tanya yang menggelisahkan pikirannya itu. Ia pergi ke gereja dan membaca buku-buku rohani Kristen. Hal yang sangat baru dan membuatnya penasaran. Dewa bergumul.

Dalam masa pergumulan, Dewa mengalami peristiwa supranatural. Ia mendengar suara yang sangat lembut berkata, “Son, it’s Me” Ia melihat sinar yang menyilaukan. Empat kali suara itu menyapanya. Perjumpaan pribadi yang sangat indah. Dewa menangis, damai teduh mengalir di hatinya. Damai yang belum pernah ia rasakan.

Diusir Keluarga
Babak baru dalam hidupnya dimulai. Ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaan itu. Sukacita tiada tara. Ia menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat. Pernyataan imannya membuat Dewa diusir dari keluarga. Seluruh fasilitas mewah dan keuangan yang melimpah, ditarik seketika. Dewa keluar rumah tanpa membawa harta apapun kecuali handphone di sakunya.

Tak ada yang bisa menolong. Teman temannya yang selama ini sangat dekat dengannya telah dihubungi oleh keluarganya supaya tak memberinya pertolongan. Pintu-pintu telah tertutup baginya. Namun sukacita memiliki Yesus itu lebih dari semua yang pernah ia miliki. 

Hidup di Jalan
Dewa hidup di jalanan. Tidur di emper toko atau di mana saja bersama para tunawisma. Saat uang penjualan handphone habis, Dewa mengamen. Sekadar bisa membeli makan. “Hampir tiap malam aku menangis. Sulit sekali adaptasi dari hidup sangat nyaman tiba-tiba hidup melarat. Berat. Setiap hari saya berusaha bertahan. Tapi saya tidak mau menukarkan iman dengan apa pun,” kenang anak pertama dari empat bersaudara.

Di tengah kesesakan, Tuhan selalu memberi kelegaan. Pertolongan-Nya selalu tepat. Dewa mulai memiliki teman-teman baru. Seorang dari mereka mengenalkan Dewa pada Pdt. Daniel Alexander, hamba Tuhan yang menolong banyak orang. “Pengaruh papi Daniel sangat besar terhadap hidupku. Aku belajar dari papi mempunyai hati Bapa. Mengasihi sesama tanpa melihat latar belakang, sama seperti Tuhan Yesus. Papi banyak sekali membiayai sekolah anak-anak angkatnya. Hidupnya memberi,” tutur Dewa. Sosok Daniel sebagai bapak rohani yang penuh kasih itulah alasan Dewa menggunakan nama Alexander di belakang namanya.

Total Melayani
Dewa sekolah misi di Surabaya. Hal ini juga membuatnya makin mengerti panggilan Tuhan. Setelah itu, Dewa mulai melayani. Mengabarkan Kabar Baik. Pergi ke pedalaman sampai luar negeri seperti Thailand, Zimbabwe, India, Afrika Selatan, Chili dan Belanda. Menyampaikan harapan bagi banyak orang yang putus asa. Tuhan Yesus adalah sahabat sejati bagi semua orang, Juruselamat dunia.

Dewa rela menyerahkan hidup yang nyaman.“Itu karunia Tuhan. Aku ingin mereka merasakan kasih Tuhan melalui hidupku. Aku juga berharap ada banyak generasi muda mau melakukan sesuatu bagi orang yang ada di sekitar mereka,” harapnya tersenyum. Ia membuka lemari penuh dengan peralatan sekolah yang akan dibagikan kepada anak-anak yang belajar di HOME.

House of Mercy yang dipimpinnya tak hanya memberi pelajaran tambahan. Mereka juga membangun karakter anak-anak yang hidup di lingkungan sangat keras itu. Sebagian besar anak ikut meringankan beban orangtua dengan berjualan makanan seperti empek-empek seharga seribuan.

Dewa telah menjadi teladan bagi adik rohaninya dan anak kampung Duri Pulo. Dan teladan itu lebih dari kata-kata…

Sumber: Majalah Bahana, September 2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s