Batu Sandungan


batu

Saya mempunyai seorang teman yang sedang dilanda suatu masalah. Kelihatannya tidak begitu sulit tapi karena merasa tidak enak hati, akhirnya dia tidak pernah keluar dari masalah tersebut.

Teman saya ini seorang Kristen, dan dia juga punya sahabat yang usianya jauh lebih dewasa darinya. Sahabat ini selalu mengajaknya pergi beribadah ke sebuah gereja. Namun mereka selalu datang terlambat di tengah-tengah ibadah. Dan ini sangat menganggu teman saya.

Bukan itu saja, bahkan ketika sahabat ini mengajaknya ikut training di gereja, kebiasaan itu tetap ada. Awalnya teman saya ini membiarkannya, walaupun hatinya menolak dan tidak setuju dengan sahabatnya. Baru-baru ini teman saya merasa bersalah pada Tuhan.

Ketika masa training itu teman saya jatuh sakit, dan ia bermaksud tidak datang menghadiri pertemuan itu. Namun sahabatnya ini mengatakan bahwa berkat-berkat yang ia terima berasal dari Tuhan, jadi mengapa sakit saja tidak datang. Dan seperti biasa, teman saya mulai dikuliahi oleh sahabatnya ini. Dan akhirnya, dengan perasaan bersalah, teman saya datang pada pertemuan itu. Lagi-lagi mereka terlambat. Menurut cerita teman saya ini, mereka selalu terlambat karena sahabatnya itu, bukan karena dirinya. Ironis bukan?

 Bukannya sukacita datang pada Tuhan, tapi lebih pada perasaan bersalah. Hal ini telah berlangsung lama. Kini teman saya mulai agak mengalami kepahitan dengan orang-orang Kristen, padahal ia sendiri adalah orang Kristen. Beruntunglah teman saya mau menceritakannya pada saya, walaupun saya tidak dapat membantu banyak. Saya berikan penjelasan pada dia bahwa Tuhan tidak pernah memperhitungkan atau hitung-hitungan berkat dengan kita. Seperti dalam firman Tuhan Yakobus 1:17, Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Saya sungguh berharap teman saya dimampukan oleh Tuhan untuk keluar dari masalah ini, dan mengambil keputusan yang benar agar tidak menimbulkan kekecewaan yang lebih mendalam dan akhirnya meninggalkan Tuhan.

Roma 14:17-18 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s