Imelda Marselas Wangkar: Jangan Hanya Menarik di Luar


wangkarKekagumannya pada sosok presenter berita Ira Kusno, mendorong Sella Wangkar memilih profesi yang sama. Sebelum menjadi presenter, Sella diharuskan menjadi reporter di lapangan. Baginya, itu merupakan sebuah pengalaman berharga.

Menjadi seorang reporter membawa pemilik nama lengkap Imelda Marselas Wangkar ini menjelajahi daerah-daerah terpencil di Indonesia, seperti daerah di Kalimantan dan Papua. Di situ, ia menyaksikan sendiri betapa ketimpangan pembangunan sangat terasa. ”Yang berkesan buat saya pada saat pergi ke daerah terpencil, saya melihat banyak ketimpangan antara pembangunan di Pulau Jawa dan di daerah luar Pulau Jawa,” tuturnya.

Contoh ketimpangan itu, kata Sella, terlihat dari infrastruktur yang belum merata. Di sebuah desa, ibu dari Alfaro ini menyaksikan anak-anak sekolah yang harus berjalan kaki selama dua jam untuk mencapai sekolah mereka. Dari pengalamannya ini, Sella berpikir bahwa pemerataan adalah hal yang tidak kalah penting dibandingkan pembangunan. ”Negara ini memang butuh sekali yang namanya pemerataan, karena ketimpangan seperti ini tidak jauh di mata kita,” tandasnya.

Siaran Perdana
Setelah lulus dari Universitas Parahyangan, Bandung, Sella tidak langsung bekerja di stasiun televisi, tapi ia bekerja di kedutaan sekitar tiga bulan. Ia juga pernah melamar di beberapa media nontelevisi. Namun, karena memang hasrat bekerja di stasiun televisi lebih besar, langkahnya pun membawanya bekerja di stasiun televisi SCTV.

Saat-saat siaran perdana, Sella mengaku sangat tegang. Siaran pertamanya adalah breaking news Liputan 6 pukul 22.00 WIB. Beberapa rekannya mengatakan ia harus siap mental menghadapi berbagai komentar, baik mengenai kemampuan membawakan berita maupun penampilannya. “Saat pertama itu, saya belum punya dandanan yang pas. Jadi ada yang komentar jelek,” katanya sambil tertawa.

Presenter pemula, menurut Sella, biasanya diberi tugas membawakan berita pada pagi hari. Alasannya, penontonnya lebih sedikit dibanding siang. Selain itu, siaran pagi ditawarkan dua presenter untuk saling melengkapi.

Ada pengalaman lucu pernah dialami Sella sebagai presenter. Saat itu, ia harus siaran pada siang hari di sebuah mal, padahal ia baru saja tiba dari luar kota. Dari awal, ia sudah menyampaikan kepada teman-temannya bahwa ia sedang tidak fit. Tapi, ia tetap bertekad menjalankan tugas. Alhasil, setelah membacakan dua berita, bruukk. Sella tak sadarkan diri. “Saya langsung digotong dan direbahkan ke toko yang menjual spring bed. Malu banget, saya ga mau lihat rekamannya,” ungkapnya.

Kesan Glamour
Citra yang terpantul dari seorang presenter berita adalah kehidupan glamour. Bagaimana menurut Sella? “Saya pikir malah sebaliknya, karena seorang wartawan itu sering ke lapangan, lebih dekat dengan masyarakat. Jadi ke-glamouran itu hanya terlihat di televisi saja. Terkesan glamour karena penampilan kita. Rambut harus rapi, muka di make-up, dengan pakaian bagus,” jawabnya.

Sesudah muncul di TV, Sella merasa tidak ada perubahan cukup berarti. Teman-temannya tidak menganggap ia sebagai seseorang yang istimewa. Ia masih menghabiskan waktu dengan mereka untuk jalan-jalan, bahkan makan di pinggir jalan.

Penampilan fisik, bagi perempuan kelahiran Jakarta 11 Maret 1978 ini tidaklah cukup untuk menjadi modal sebagai presenter berita. Penampilan harus ditunjang wawasan yang memadai. “Jangan hanya kelihatan menarik di luar tapi ga bisa ngapa-ngapain, harus dibuktikan juga dengan kualitas kerja. Dengan kepandaian, saya yakin bisa melakukan apa yang terbaik untuk pekerjaan saya,” ujar penyuka gado-gado ini.

Kompetisi
Setelah reformasi, banyak bermunculan stasiun televisi baru, baik lokal maupun nasional. Sella melihat ini sebagai sesuatu yang positif. Masyarakat jadi punya beragam pilihan tontonan. “Silakan, masyarakat memilih mana yang terbaik untuk mereka,” kata wanita yang hobi jalan-jalan ini.

Saling merekrut presenter dari antar stasiun televisi sudah jamak dilakukan. Ia pun pernah mendapat tawaran dari stasiun televisi lain, tapi ia tolak. Ia merasa masih mencintai pekerjaan dan institusi tempatnya bekerja sekarang ini.
Apa kelebihan Sella sebagai presenter? Bagi Sella sulit menilai diri sendiri. Namun dari pengalamannya bertahun-tahun sebagai presenter, Sella menyimpulkan ia bukan tipe yang mudah panik. Jadi saat ada kejadian yang mendadak, seperti teks yang seharusnya ia baca tiba-tiba hilang atau ada ketidakberesan lain di belakang layar, ia bisa terlihat tetap tenang.

Doa Malam
Sebagai seorang pengikut Yesus, Sella percaya bahwa Tuhan ada dalam kehidupannya setiap hari. Dia yang mengatur seluruh kehidupan Sella. Usai menjalani hari yang sibuk, Sella menutup hari dengan doa malam. ” Ini sudah saya lakukan dalam 3 tahun belakangan. Dengan melakukan doa jam 12 malam saya merasa ada kekhusyukan,” paparnya. Bahkan, ia kadang pergi ke gua Maria di Gereja St. Teresia, Menteng untuk doa malam.

Mencari ketenangan batin, akhir-akhir ini Sella juga sering mengunjungi Pertapaan Rawa Seneng di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah. Meskipun tidak ada ritual khusus, ia merasa nyaman berdoa di sana. Ketika penat mendera tubuh dan jiwanya, ia kerap mencari kedamaian dalam keheningan doa di tempat itu.

Mengenai pelayanan di gereja, waktu yang dimiliki Sella sangat terbatas, karena ia harus membagi waktunya untuk bekerja dan mengasuh anaknya yang berumur 5 tahun. Tapi, jika ada yang memintanya menjadi lektor (pembaca bacaan Alkitab dalam Misa), Sella selalu bersedia. ”Kalau untuk gereja saya pasti mau bantu. Kegiatan untuk gereja merupakan wujud syukur karena talenta yang saya miliki,” tegas umat paroki Ratu Rosari, Jagakarsa, Jakarta Selatan ini.

No Amplop
Profesi wartawan atau reporter sering digoda dengan pemberian amplop. Sella memang tidak menyangkal, selama ia bertugas di lapangan, banyak pihak yang memberikan amplop dengan berbagai kepentingan. Bahkan, ia pernah dikejar-kejar salah seorang narasumber yang ingin memberikan amplop kepadanya.

Sebagai orang yang bergelut di dunia jurnalistik, Sella merasa prihatin dengan pandangan bahwa wartawan di Jakarta sangat dekat dengan ’amplop’. Menurut Sella, ia tidak pernah tergoda atau menerima amplop. Ia selalu menolak sebisa mungkin dengan cara halus. “Saya bisa menunjukkan saya orang kristiani, saya tidak mau menerima itu. Selama jadi wartawan saya ga pernah terima amplop sekali pun,” akunya.

Dalam menjalani kariernya, Sella ingin memakai jalan yang tidak bertentangan dengan kata hatinya. Ia tidak silau dengan kedudukan yang tinggi, sehingga harus menghalalkan segala cara. Apalagi jika harus menggadaikan imannya. Ia percaya karier seseorang itu hanya sementara dan dapat diambil kembali seketika.

Anak dari pasangan Max Wangkar dan Yusana ini juga belajar untuk tidak menjadi tinggi hati. Karena itu, ia sangat kagum dengan salah satu narasumber yang pernah ia wawancara yakni mantan Direktur Utama BNI, Sigit Pramono. Meskipun jabatannya tinggi, ia tidak segan menyuguhi minuman untuk tamunya sendiri. “Dia bawa bakinya sendiri, dia menyediakan minum yang dia bawa sendiri. Dari situ saya melihat, walaupun seorang Dirut, dia mau melayani kami sendiri. Itu menjadi contoh buat saya bahwa orang yang sudah tinggi tapi masih mau melayani,” Sella. 

Sumber: Majalah Bahana, Agustus 2009

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s