Jika saya menikah nanti


marriageJika saya menikah nanti , dengan:

a. Orang yang dapat saya hormati (respectable), yaitu orang yang memiliki karakteristik yang kita kagumi. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang dapat dihormati.

b. Orang yang dapat saya percaya (trustworthy), artinya orang ini jujur, terbuka. Prinsipnya adalah jangan menikah atau memilih orang yang tidak bisa kita percaya. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang bisa dipercaya.

 c. Orang yang dapat saya kasihi (lovable). Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang dapat dikasihi.

 d. Orang yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan (flexible). Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang dapat menyesuaikan diri.

e. Orang yang telah siap mengakhiri hidup lajang. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang siap mengakhiri hidup lajang (siap menjadi suami atau istri, seseorang yang dimiliki seseorang).

f. Orang yang telah siap berkeluarga. Berarti saya pun juga harus menjadi orang yang siap berkeluarga (siap menjadi ayah/ibu yang membagi hidup).

 Kriteria Pasangan Hidup digolongkan dalam beberapa faktor, yaitu:

 I. Faktor IBADAH

o Apakah ia seiman?

o Apakah ia memiliki kematangan rohani yang setara? Dan yang perlu kita pertimbangkan dalam kematangan rohani ini adalah: – Berapa pentingnya Tuhan dalam kehidupannya? – Berapa berminatnya ia pada hal-hal rohani? – Berapa relanya ia berkorban bagi Tuhan dan pekerjaan-Nya?

II. Faktor CINTA

o Apakah ia mencintai saya atau membutuhkan saya? Karena kalau mencintai itu untuk kepentingan kita, tetapi kalau membutuhkan hanya untuk kepentingannya.

 o Apakah ia mengutamakan kepen-tingan saya di atas kepentingan orang lain? Sebab cinta diukur dari perbandingan, kalau dia berkata dia mencintai kita, apakah kita itu menjadi urutan paling penting dalam hidupnya, yang sudah tentu di bawah Tuhan

III. Faktor RESPEK

o Apakah ia menghargai saya atau memanfaatkan/memakai saya?

o Apakah ia memertanyakan pertimbangan? Misalkan waktu saya mengemukakan pendapat dan sebagainya apakah dia memertimbangkan ataukah dia justru memertanyakan, terus-menerus meragukan pertimbang-an kita.

 o Apakah ia dapat menerima saya? – diri saya – keluarga saya – teman pergaulan saya – masa lalu saya – masa depan saya

o Seberapa jauhkah ia berani mengabaikan pikiran, pendapat, perasaan saya?

o Apakah ia mengagumi saya?

 IV. Faktor PERCAYA

o Apakah ia dapat memercayai saya: – dalam kesendirian tanpa kehadirannya – dalam pengambilan keputusan – dalam hubungan dengan lawan jenis

 o Apakah ia dapat memercayakan rahasia dan kelemahan hidupnya kepada saya?

 V. Faktor KEINTIMAN

o Apakah ia tertarik kepada saya dan ingin berdekatan dengan saya? Jangan sampai kita merasa dia tidak tertarik, tidak suka dekat-dekat dengan saya.

 o Apakah ia dan saya dapat saling mendengarkan dan membagikan hidup? Karena ini merupakan keintiman emosional.

 o Apakah ia dapat berkomunikasi dengan saya tanpa harus frustrasi? Kalau komunikasi tidak bisa berjalan dengan baik sudah tentu tidak akan ada keintiman.

 o Apakah ia dapat mengambil keputusan dengan saya? Artinya Kalau ada persoalan, kita harus mengambil keputusan bersama.

o Apakah ia dapat menyentuh perasaan saya? Ketika kita mulai mencari persamaan untuk menemukan kriteria ini, kita harus tetap menantikan pim-pinan Tuhan.

 Itu bisa kita lihat saat ucapan Tuhan ketika Dia menciptakan istri bagi Adam, “…tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia,” artinya Tuhan terlibat, oleh karena itu jangan takut melibatkan Tuhan untuk kebaikan.

 Oleh: Pdt. Dr. Paul Gunadi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s