Sandra Angelia: Ingin Menjadi Inspirasi dan Motivator


sandraangeliaDalam 3 minggu hidup Sandra berubah total. Dari seorang reporter magang yang dikejar-kejar deadline, ia menjelma menjadi seorang putri. Bagi Tuhan apa yang mustahil?

Sorak-sorai dan sorot lampu warna-warni yang menerpa tubuh molek Sandra Angelia di tengah gemerlap panggung dengan kilau keemasan tak sebanding dengan gemuruh di hatinya. “Waktu disebutkan ´Miss Indonesia 2008 Sandra Angelia …´ Rasanya hati ini mau copot. Bumi kayak stop. Senangnya nggak karuan…,” tutur dara kelahiran 11 Mei 1986 ini.

Apa yang berubah setelah Sandra jadi Miss Indonesia? Tidak ada! “Saya harus memberi teladan, tetap rendah hati, dan mencerminkan perempuan Indonesia.” “Pastinya saya mau menjadi sosok yang berdampak, memberi inspirasi dan menjadi motivator bagi orang-orang dan lingkungan saya,” tutur Sandra berkaitan dengan cita-citanya.

Dinamis
Hidup Sandra memang dinamis dan penuh kejutan. Studi arsitektur, tapi pengen jadi presenter. Sekarang malah jadi Miss Indonesia. Mantan karyawan magang di RCTI Biro Surabaya ini mengisahkan pergulatannya, ketika harus bekerja dari pukul 06.00 hingga 20.00 sonder gaji.

“Saya melamar jadi reporter-presenter. Saya magang dari pukul 6 pagi hingga 8 malam tanpa dibayar. Saya bangun pukul 05.00 dan tiba di kantor on time. Seharian saya berkeliaran di jalanan, mencari berita, mengejar-ngejar orang dan mewawancarai mereka. Lumayan berat. Namun, Tuhan ingatkan untuk tetap sungguh-sungguh sama Dia. Tetap saat teduh, doa, puasa, dan doa malam. Tuhan selalu ingatkan Yeremia 29:11, dan saya selalu pegang ayat itu.

” Justru di medan kerja yang berat itulah Tuhan membawa Sandra bertemu teman kerja yang pernah mengikuti ajang Miss Indonesia 2007. Teman inilah yang mendorong Sandra ikut kontes kecantikan yang belum terpikir olehnya. “Karena arahnya ke sosial, saya berpikir biarlah papa dan mama saya melayani di bidang spiritual, saya mau melayani di bidang sosial supaya balance,” ungkap putri kedua pasangan Yusak Hadisiswantoro dan Hana Asti Tanuseputra ini.

Ternyata hobi tampil itu sudah mengalir dalam dirinya sejak kecil. “Aku suka tampil. Suka nyanyi di gereja dan coba-coba jadi presenter di tivi lokal. Intinya dorongan untuk hadir di dunia entertain memang kuat,” cerita Sandra.

Mandiri & Memotivasi

 Hana menggambarkan putrinya sebagai pribadi yang mandiri, berjiwa pemimpin, dan punya dedikasi. Ketika kecil Sandra dan saudaranya kerap ditinggal orangtua mereka pelayanan ke luar kota. Saat usia 10 tahun, Sandra kecil didapuk menjadi ‘kepala rumah tangga’ untuk mengurusi kebutuhan dapur, keperluan sekolah, dan jajan saudara-saudaranya. Sandra juga dinilainya sangat dermawan karena dalam daftar belanja selalu ada embel-embel bonus buat pembantunya.

 Kemandirian Sandra berlanjut ketika usia 13 tahun melanjutkan SMP hingga kuliah di Australia. Kendati lama berada di negeri Kanguru, ia tidak kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. “Saya diajarkan budaya hormat kepada orangtua. Saya juga sangat anti `free sex`. Saya di Australia mengambil yang positif, seperti kemandirian, menaati hukum, dan budaya tepat waktu,” ujar gadis berbobot 48 kg ini.

Keberhasilan Sandra meraih gelar Miss Indonesia 2008 mampu mengubah pandangan orangtuanya. Sebagai pendeta, Yusak bahkan ter¬motivasi. “Sebelumnya gereja punya pemahaman eksklusif, tidak boleh ke du¬nia. Padahal mandat budaya yang Yesus ajarkan itu pergilah.. menjadi terang di marketplace. Ini salah satu alasan kenapa saya izinkan Sandra mengikuti ajang ini.”

“Saya sendiri termotivasi. Kalau Sandra bisa, saya ingin orang-orang berpotensi yang saya bimbing bisa punya peluang untuk jadi contoh,” lanjutnya.

Truly Depend on God

Meski mandiri sejak kecil, Sandra juga gadis yang selalu mengandalkan Tuhan. Apalagi sebagai manusia yang memiliki sisi fragile. Jalan hidupnya tak selalu mulus. Ia nyaris tidak naik kelas saat kelas V SD lantaran bahasa Inggrisnya jeblok. Masuk tes sekolah di Australia modalnya cuma pede dengan bahasa Inggris pas-pasan. Atau soal teman yang berkhianat, juga dialaminya.

“Jalan-jalan-Nya ajaib meski persoalan pasti ada. Saya hanya mengandalkan Tuhan. Semua itu jadi pelajaran dan membuat saya jadi pribadi yang lebih kuat!” kata penyuka musik jazz ini.

Begitu pula waktu di karantina. Lantaran tidak boleh bawa hp, dekatnya cuma sama teman-teman dan Tuhan. “Tiap pagi renungan sebelum mulai aktivitas. Selama di karantina Tuhan Yesus yang menguatkan saya,” tandasnya.

Pulang Kampung

Setelah dinobatkan menjadi Miss Indonesia 2008, Sandra sempat “pulang kampung” dengan serangkaian kegiatan. Sandra mengawali kegiatannya dengan ucapan syukur di Gereja Bethany Manyar (23/5). Selanjutnya ia bernostalgia ke kantor RCTI Biro Surabaya.

Sebagai simbol perdamaian, Sandra didampingi Cak dan Ning Surabaya melepas 100 balon dan 5 burung merpati di pelataran Hotel Sheraton. Uniknya, di dalam balon tersebut berisi secarik kertas yang berisikan doa dari 100 anak pilihan. Sandra juga mengunjungi sembilan kantor media massa cetak dan televisi di Surabaya.

 Untuk aksi sosial, Sandra melakukan kunjungan ke RS Bersalin Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Panti Asuhan Matahari Terbit, serta merayakan ulang tahun bersama 100 anak yatim, anak jalanan, dan anak tak mampu. Dalam rangkaian kunjungan itu, peraih Miss Favorit ini membagikan ratusan paket perlengkapan bayi dan bingkisan dari Samaritan Purse sumbangan Yayasan Pondok Kasih Surabaya.

Ketika mengunjungi RS Bersalin IBI, Sandra didapuk memberi nama kepada tiga bayi. Masing-masing Alana, Ferdinand, dan Hendrawan. “Biar jadi orang dermawan,” kata Sandra memberi alasan nama Hendrawan. “Saya ingin membantu anak-anak, karena anak-anak itu merupakan awal dari semuanya. Anak-anak itu tulus dan polos. Itu perlu dicontoh orang dewasa seperti saya,” tambahnya.

Menuju Miss World: Ester Milenia?

 Setahun ke depan ia akan mengemban banyak tanggung jawab sebagai Miss Indonesia. Salah satunya mempertaruhkan nama Indonesia di Ukrania, Miss World 2008. Bagi Sandra bukanlah beban, melainkan lebih sebagai tantangan. Agar berjaya di Ukraina pemilik tinggi 165 cm ini bermodal tekad dan semangat.

“Saya punya motto, kita tak akan bisa dikalahkan selama tidak menyerah. Itulah modal saya. Ini yang akan saya bawa. Bukan kebetulan kalau Tuhan buka jalan ini. Saya berharap bisa mengharumkan nama Indonesia, seperti Ester memenangkan Israel,” tandasnya. Sosok Ester memang menginspirasi Sandra untuk maju.

Salah satu kontroversi dalam ajang Miss World adalah baju renang. Menanggapi hal ini Sandra dan ibunya sepakat sepanjang menyangkut penjurian mereka tidak keberatan. “Menggunakan swimsuit selama itu dibutuhkan sebagai bagian dari penjurian, menurut saya nggak masalah. Tapi kalau bisa dinegosiasikan saya tetap mengutamakan eastern value atau dengan menggunakan one piece,” jelas penyuka tempe goreng ini .

Sementara, Indayati Oetomo setuju dengan swimsuit.Swimsuit bukan untuk eksploitasi, tetapi untuk melihat apakah pernah hamil atau tidak. Jadi, nggak ada unsur pelecehan. Di Amerika selalu ada why dan because…,” ujar International Director International Model Talent Association (IMTA) sejak 2000 ini.

Memang, swimsuit hanya salah satu dari poin penjurian. Ada hal lain yang perlu dipersiapkan, seperti beauty with purpose, talent, sport, dan fashion. Untuk talent show Sandra akan melukis di atas kain sutra.

Sosoknya cantik, ramah, menarik, cerdas, dan peduli. Tak salah bila andra terpilih sebagai Miss Indonesia 2008. Ok, Sandra, selamat berjuang mengharumkan nama bangsa. mengutip pesan Indayati, “Keep working the good personality, honest, and integrity.”

 Sumber: Majalah Bahana, Juli 2008

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s