Ir. Ciputra


Pasca ditinggal sang ayah yang meninggal kerena dibunuh Jepang, Ciputra bangkit dan giat belajar hingga selalu menjadi yang terbaik di sekolah.

Bagi Pa Ci, begitu DR. Ir. Ciputra (78) disapa, semua bermula dari pengalaman hidup susah sejak kecil. Ia yang terlahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, lebih dikenal sebagai anak badung. Yang namanya rajin hanya ditemui ketika ia belajar bahasa. Pelajaran yang dianggapnya akan berguna. Akibatnya, saat usia 12 tahun, Maestro Real Estate Indonesia masih kelas 2 SD.

Kegemilangan prestasinya berlanjut ke jurusan arsitektur ITB. Setelah lulus kuliah, jiwa wirausaha mengantarkannya menjadi raksasa pengembang properti di tanah air lewat PT Pembangunan Jaya.

Kecemerlangan Pa Ci tidak berhenti. Fasilitas hiburan Taman Impian Jaya Ancol menjadi karya emasnya untuk dunia hiburan. Lalu berdiri dengan megah Hotel Ciputra.

DALAM UJIAN ADA MUKJIZAT
Tapi krisis ekonomi 1997 nyaris meruntuhkan imperium bisnisnya. Tiga grup yang dipimpinnya: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group limbung. Langkah penyelamatan dilakukan. Group Ciputra terpaksa memberhentikan 7 ribu karyawannya. Penghematan pun dilakukan untuk menghemat Rp. 4 miliar pertahun. Kondisi tahun 1998 dimana terjadi pengrusakan dan kerusuhan melanda Jakarta, Pak Ci ikut-ikutan menambah beban psikologis pasukannya. Hampir setiap hari ia uring-uringan tanpa sebab. Ia mem-pressure timnya.

Pada saat itulah, mata hati Pak Ci terbuka. Kalau sebelumnya bergereja hanya merupakan kebiasaan, sekarang lain. Ingatannya dikuakkan akan adanya Juruselamat yang sanggup melakukan apapun baginya. Hidup Pak Ci berubah. Bukan hanya rajin beribadah, tapi ia punya keinginannya untuk lebih dalam bersama Kristus begitu berkobar. Ia pun menjadi lebih sabar, ramah dan penuh pengertian. Hal ini bertolak belakang dengan Pa Ci yang dulu. Pak Ci yang mengandalkan kekuatan dan kepandaian sendiri. “Banyak mukjizat terjadi, seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi uang-utangnya,” ujar penggagas sekaligus ketua pertama Real Estate Indonesia dalam satu kesempatan berbincang dengan Bahana.

“Selain karena kerusuhan, saya melakukan kesalahan dalam strategi bisnis. Saya berdoa dan meminta kreditur memberi keringanan. Puji Tuhan, mereka dapat mengerti. Saya selalu berprinsip bahwa jika kita bekerja keras dan berbuat dengan benar, Tuhan pasti buka jalan. Saya bangkit dengan cara bersandar pada Tuhan,” jelasnya.

Kedekatan dengan Tuhan membuat Pak Ci aktif di beberapa pelayanan. Termasuk berkhotbah di Gereja Tiberias Mal Ciputra, Jakarta. Perubahan drastis terjadi juga di lingkup Mal Ciputra, Jakarta Barat. Dulu di dalam lokasi ini terdapat diskotik. Kehadirannya mengusik batin Pak Ci. Ia merasa tidak enjoy dengan kehidupan barunya. Meski begitu ia tidak bisa bertindak semaunya. Karena eksistensinya jauh sebelum ia bertobat. Masalah ini membawa pergumulan dalam hidup Pak Ci. “Saya sadar keberadaan diskotik tidak akan baik untuk kesaksian hidupnya,” katanya.

Tanpa disangka, terbuka jalan sehingga pemilik diskotik keluar dari Mal Ciputra dengan cara baik-baik.

Kini lokasi diskotik yang dulu berada di lantai satu, dekat tangga yang menghubungkan hotel dengan mal, diperuntukan sebagai ruang pertemuan. Ruangan ini disewakan. Bahkan pada hari Minggu digunakan sebagai tempat ibadah oleh salah satu gereja. Belakangan ketiga grup yang dipimpin Pak Ci maju pesat dan melakukan ekspansi hingga ke luar negeri. Inilah harga suatu perubahan yang Tuhan bayar tunai dan berlipat kali ganda.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s