IGO(Indonesia Idol): Perjalanan Panjang Berbuah Manis


“Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yesus. Karena tanpa Dia saya bukan apa-apa. Arti nama saya kalau dibalik menjadi go to Christ, di mana saya ada untuk menceritakan Kristus” Begitu kira-kira kata Elicohen Christellgo Pentury atau Igo ketika namanya disebut sebagai pemenang Indonesian Idol 2010.

Bakat menyanyi Igo sudah terlihat sejak kecil, namun hal ini tidak diketahui betul oleh orangtuanya. Henny Tamoson, guru Kesenian Igo yang menemukan bakat terpendam tersebut. Saat diberi tugas Kesenian, Henny melihat Igo memiliki bakat menyanyi yang bagus. “Ibu Henny yang mendidik saya menyanyi,” cerita Igo.

Sejak itu, Igo mengembangkan bakat menyanyinya. Ia kerap menyanyi di gereja. Sampai sekarang ia aktif di pelayanan Gereja. “Saya suka nyanyi di gereja. Sebulan dua kali setidaknya saya menyanyi di gereja,” tukas jemaat Gereja Sinar, Kudamati, Lorong PMI, Ambon.

Igo juga pernah diajak Papa Tuanya, Michael Pentury, menyanyi di Belanda. “Di sana saya menyanyi untuk menghibur masyarakat Maluku. Saya nyanyi Hujan Sore-Sore. Lagu itu yang mungkin membuat saya bisa sampai ke sana,” imbuh pria yang sejak SD sudah bisa bermain alat musik ini.

Igo terus mengembangkan talenta menyanyinya dengan mengikuti berbagai lomba. Sudah banyak kejuaraan menyanyi yang berhasil digondolnya. Bersama teman-temannya, ia juga membentuk grup band yang dinamainya PARC (baca: parsi), yang artinya untuk kamu. Bersama teman-teman bandnya, Igo sempat manggung sana sini. Bersama mereka juga, Igo unjuk gigi di pentas Gong Perdamaian Dunia di Ambon.

GAGAL KARENA USIA
Perjalanan Igo menjadi seorang superstar rupanya tidaklah mulus. Pada 2008, ia menjajal ikut audisi Indonesian Idol. Sayang, begitu audisi, ia gagal lantaran usianya tidak memenuhi syarat. “Waktu itu saya masih 15 tahun. Jika saya gagal, itu memang sudah jalan Tuhan.”

Lagi-lagi masalah usia menghalangi Igo. Igo dan teman-teman bandnya gagal ikut audisi band di Jaya Pura karena umur Igo yang tidak memenuhi syarat. Walau gagal berkali-kali, Igo sama sekali tak patah arang. Buatnya, kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.

Menginjak 2010, usia Igo memasuki 17 tahun. Itu artinya, dari segi usia ia sudah memenuhi syarat untuk ikut ajang pencarian bakat Indonesian Idol 2010. Ia pun kembali mencoba. Akhirnya setelah melewati tahapan-tahapan audisi yang panjang, ia berhasil masuk babak Spektakuler. “Saya tidak menduga bisa sampai di sini. Ini sudah jalan Tuhan. Kalau Tuhan bilang tutup jalan ini, maka Ia akan menutupnya sekarang. Kalau masih ada jalan, bukalah jalan yang tepat,” ujarnya ketika ia berada pada posisi enam besar.

MENGOLAH TEKANAN
Selama mengikuti Indonesian Idol, Igo banyak belajar dari para artis senior, seperti Pasto, Agnes Monica, Ahmad Dhani, dan Charlie ST12. Ia bersyukur mendapat kesempatan belajar dari mereka. Semua ilmu, kritikan, dan komentar dari mereka, ia jadikan cambuk untuk bisa lebih maju.

Rupanya, tidak selalu hal menyenangkan yang didapat Igo selama mengikuti ajang pencarian bakat tersebut. Igo mengaku dirinya sempat down. Ia mengalami berbagai tekanan, seperti tuntutan untuk selalu tampil dengan baik di setiap malam Spektakuler dan rasa rindu pada keluarga. Untunglah ia bisa mengolah berbagai tekanan tersebut. “Cara mengatasinya saya bawa enjoy saja. Ketika lagunya enjoy, ya dibikin enjoy. Enggak usah diambil pusing,” tuturnya santai.

Usaha lainnya, Igo selalu memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Setiap aksi panggungnya ia persembahkan untuk masyarakat. “Prinsip saya, saya menyanyi untuk menghibur masyarakat. Dari awal saya enggak pernah ngotot untuk menang. Saya nothing to lose.

Usaha Igo tidak sia-sia. Setelah melewati perjalanan panjang yang tidak mudah, akhirnya, Sabtu (7/8) Igo dinyatakan sebagai juara Indonesian Idol 2010. Begitu namanya disebut sebagai pemenang, ucapan terima kasih kepada Tuhan Yesus menjadi kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya. “Saya berkata demikian karena semua ini bukan karena kekuatan saya. Saya tidak ada apa-apanya tanpa campur tangan Tuhan,” ungkapnya tegas.

HUMBLE
Kini Igo menyandang predikat sebagai The Superstar Indonesian Idol 2010. “Saya sangat senang dan bersyukur karena Tuhan memberi kepercayaan kepada saya untuk menjadi seorang superstar.

Untuk menjaga kepercayaan yang sudah Tuhan berikan kepadanya, Igo berjanji akan memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan musik Indonesia. “Saya akan menjadi diri sendiri dan menjaga apa yang telah orangtua berikan kepada saya. Saya selalu berdoa, jika seandainya saya menjadi seorang idola, saya bisa tetap humble kepada masyarakat,” kata putra dari pasangan Marcus Pentury dan Rosano C. Pentury.

Igo ingin menjaga teguh didikan orangtuanya. Sang Papa yang seorang anggota DPRD Maluku, selalu mengajarkannya untuk menolong orang lain. “Papa selalu baik. Ia selalu memberi dari kekurangannya. Kalau ada orang yang bersalah sama Papa, malah Papa yang minta maaf.”

Sikap itulah yang ingin diteladani Igo. Ia ingin selalu berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Ia sama sekali tidak khawatir dirinya akan jatuh miskin jika rajin membantu orang lain. “Kalau kita memberi, maka kita juga dikasih berkat oleh Tuhan. Jadi tidak perlu khawatir.”

Rupanya, tak hanya sikap sang papa yang ingin diteladaninya. Igo juga ingin meneladani sikap mamanya, yang peduli pada anak-anak. “Saya juga seperti Mama, suka dengan anak-anak,” imbuhnya.

Ke depannya, selain menekuni dunia musik, Igo ingin menyelesaikan kuliahnya yang tahun ini baru dijajakinya. “Yang pertama buat saya itu pendidikan, sementara dunia entertain nomor dua.” Igo mengambil jurusan Hukum, Universitas Trisakti. Itu berarti ia harus tinggal jauh dari orangtuanya yang menetap di Ambon, Maluku.

Tinggal jauh dari orangtua tentunya menuntut Igo untuk bisa hidup mandiri dan mengatur diri dengan baik. “Saya harus bisa mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan,” harap anak pertama dari empat bersaudara ini. Dengan pandai membagi waktu, Igo berharap kuliahnya tidak putus di tengah jalan. “Jangan sampai musik yang sekadar hobi malah membuat saya gagal meraih gelar Sarjana Hukum.”

Sumber: Majalah Bahana, September 2010

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s