Pemulung


Tadi pagi, sepulang dari pasar, aku berpapasan dengan seorang pemulung. Kulihat dia dari kejauhan, sedang mengaduk-aduk tempat sampah di sebuah rumah. Pakaiannya kumal berwarna krem dan terdapat bekas-bekas kotoran yang menempel. Kuperhatikan tak banyak yang diambilnya. Hanya tutup galon Aqua. Tapi harus kuakui, usahanya untuk mengaduk-aduk tempat sampah itu perlu diacungi jempol. Bisa membayangkan kan, bagaimana kondisi bak sampah yang terguyur air hujan? Mungkin ada genangan di dalamnya. Dan entah seperti apa isi bak sampah itu jika sampah organik dan non-organik bercampur. Yang jelas, baunya pasti aduhai ….

Mesti kuakui, sekelebat ada perasaan jijik saat melihat pekerjaan yang dilakukannya. Dan melihat penampilannya yang kacau itu, aku jadi membandingkan dengan penampilanku. Ya, walaupun cuma ke pasar dekat rumah, aku tak pernah memakai baju tidur yang sudah lecek. Kekumalannya membuatku–dalam beberapa detik–merasa jumawa, menganggap diriku lebih baik darinya.

Lord, have mercy. Tuhan ampunilah aku.

Kalimat itu berkelebat saat aku tersadar. Melihat pemulung tersebut, aku teringat pengalamanku saat ikut suatu pelatihan, di mana aku wajib “turun” ke jalan dengan ikut seorang pemulung. Aku ingat betul bagaimana perasaan yang timbul saat itu. Mendadak aku merasa tak berharga. Entah bagaimana perasaan seperti itu muncul. Mungkin karena selama ini aku menganggap orang-orang jalanan itu lebih rendah. Mungkin aku terlalu membandingkan penampilannya dengan penampilanku.

Sebelum turun menjadi pemulung, aku tanpa sadar mungkin menganggap diriku lebih baik, lebih bersih, lebih berharga. Saat itu aku juga memperingatkan diriku bahwa tak mungkin aku dilirik oleh para mahasiswa yang sedang bersliweran dengan sepeda motornya. “Ah, mereka tak mungkin memandangku yang memakai baju kumal seperti ini.” Dari pemikiran seperti itu saja sebenarnya aku tanpa sadar selama ini sudah menganggap para pemulung–orang-orang berpenampilan lusuh dan kumal–lebih rendah daripada aku.

Pertemuanku dengan pemulung tadi pagi, mengingatkanku agar aku tak terlalu sombong. Semua orang punya kekurangan dan kelemahan. Lagi pula, apa sih arti penampilan di mata Tuhan? Mataku buta karena hanya melulu melihat penampilan–hanya memerhatikan apa yang tampak. Aku sama sekali tidak mengenal bapak pemulung itu. Siapapun pasti punya sisi baik, walaupun terlihat samar. Lagi pula, pekerjaan pemulung itu ada gunanya juga buat kita. Walaupun mungkin dia selama ini bekerja untuk mencari nafkah, tanpa disadari dia membantu mengumpulkan sampah non-organik yang bisa didaur ulang.

Bagaimanapun, aku merasa diingatkan oleh bapak pemulung tadi pagi–bahwa tak seharusnya aku hanya melihat penampilan. Tak perlu pula memandang rendah orang lain yang tampak lebih kumal…
Diambil dari : gloria

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s