Valentine Romance – Choky + Mellisa


Setelah empat tahun merajut kasih, Choky Sitohang dan Melissa Aryani memutuskan melepas masa lajang pada 18 Juni 2010. Kini mereka sudah menjadi satu tubuh dan memasuki kehidupan baru. Banyak hal baru yang dialami. Namun satu hal yang tidak akan mereka lupakan, komitmen keduanya pada 14 Februari 2006.

Kisah kasih Choky dan Melissa bermula saat acara Natal Persekutuan Doa Komunitas BLEACH (Behave Like A Christian). “Kami ketemu waktu acara Natal tahun 2005. Tapi kami sama sekali enggak ngobrol atau pun kenalan, kami cuma liat-liatan,” kenang Chaca.

Seminggu kemudian mereka bersua kembali. Rupanya mereka tak sekadar berjumpa, tetapi juga saling berkenalan. “Akhirnya kami punya kesempatan untuk ngobrol. Bahkan aku juga sempat kesaksian tentang hidupku ke Choky. Ternyata Choky kaget banget mendengarnya dan merasa diberkati.”

Lalu keduanya pun saling bertukar nomor telepon. Sejak itulah, Choky mulai melakukan pendekatan dengan Chaca. Semakin mengenal pribadi Chaca, membuat Choky semakin jatuh hati. Ia menilai Chaca seorang yang berkharisma, menarik, dan memiliki karakter kuat. “Aku lihat ada yang lebih dari Chaca. Tidak sekadar kecantikan luar, dia juga punya kecantikan dalam. Selain baik hati, dia juga murah hati, sopan, dan kuat dalam Tuhan.”

Akhirnya Choky berniat menjadikan Chaca kekasihnya. Pada 14 Februari 2006, Choky menyatakan perasaannya kepada Chaca. Tak disangka, cinta Choky tidak bertepuk sebelah tangan. “Choky punya karakter yang kuat. Dia juga sangat bertanggung jawab kepada keluarganya, ‘family man’ banget. Aku banyak belajar hal baik dari dia.”

WAKTUNYA TUHAN

Selama empat tahun Choky dan Chaca berproses untuk mengenal dan memahami kepribadian masing-masing. Tentu tidak mudah menjalani proses tersebut. “Seperti banyak pasangan yang lain, kami pun punya masalah, bertengkar, kurangnya waktu bertemu, dan sebagainya. Tetapi Puji Tuhan selama empat tahun kami enggak pernah sampai putus sambung,” imbuh Chaca.

Walau tidak mudah, mereka berhasil melaluinya. Ketika hubungan mereka menginjak usia dua tahun, muncul keinginan menikah. Walau sudah ada keinginan menikah, tetapi mereka belum bisa memastikan waktu yang tepat untuk menikah. Maklumlah, saat itu mereka belum benar-benar siap secara mental, materi, usia, dan fisik. Terlebih saat itu karier Choky tengah berkembang. “Kami juga masih berusaha untuk terus mendekatkan diri ke keluarga masing-masing. Walaupun mereka merestui, tapi tidak semudah itu menyatukan dua keluarga dan memutuskan untuk menikah,” terang Chaca.

Dua tahun kemudian, tepatnya 18 Juni 2010 Tuhan mengabulkan keinginan mereka, “Kami percaya kalau inilah waktu yang dari Tuhan, waktu Tuhan enggak pernah salah.” Saat itu mereka pun sudah merasa jauh lebih siap. “Dari pihak keluarga kami pun sudah merasa mantap dan yakin dengan pilihan anak-anaknya,” jelas Chaca.

Chaca bersyukur sekali bisa menikah dengan Choky, seorang pria yang sudah Tuhan pilihkan untuknya. “Aku melihat Choky Sitohang bukan sosok selebritas. Aku melihatnya sebagai sosok suami yang Tuhan sudah pilihkan buatku dan aku merasa bersyukur sekali.”

Memang ada perbedaan antara Choky yang dahulu dan sekarang. “Bedanya, sekarang dia lebih dikenal orang, lebih sibuk daripada dulu, dan orang lain lebih ingin tahu tentang kehidupan kami. Tetapi Choky tetap sosok yang aku kenal empat tahun lalu, yang humble dan perhatian,” kata Chaca.

MEMBANGUN MEZBAH KELUARGA

Memasuki kehidupan baru tentu ada hal-hal baru yang dialami Choky dan Chaca. Setelah menikah, Choky merasakan ada keterikatan yang sangat kuat terhadap Chaca, yang tidak didapatnya saat pacaran. “Waktu kami diberkati saat nikah, ada kuasa Tuhan turun sehingga membuat kita terikat sebagai suami istri, bukan sekadar status tapi lebih kepada hubungan yang intim,” kata Choky.

Tak hanya itu, ada kebiasaan-kebiaasaan baru yang dialami Choky dan Chaca. “Saat bangun tidur, kami membangun mezbah keluarga. Begitu juga sepanjang hari kami saling mengingatkan, menjaga, dan melindungi dengan doa. Jadi ada orang yang mendoakan dan didoakan oleh aku,” tutur Choky. Di pagi hari mereka juga membiasakan diri untuk sharing, membicarakan apa saja yang disukai dan yang tidak mereka sukai. Dari obrolan tersebut, mereka bisa semakin memahami dan menerima kepribadian masing-masing.

Kebiasaan baru Choky lainnya, kini saat pulang kerja ada seorang istri yang menunggunya. “Dulu waktu pacaran, aku harus mengembalikan dia ke rumah orangtuanya, karena ada batas waktu. Sekarang dia istriku, kami sudah satu tubuh dan satu jiwa.”

Hal baru lainnya, Choky harus merubah beberapa kebiasaan buruknya. “Aku biasanya kalau habis pulang kerja, taruh tas di atas tempat tidur. Chaca selalu ngingetin untuk tidak menaruh tas di atas tempat tidur sebab kotor.” Kendati sudah diperingatkan Chaca, Choky berkali-kali mengulanginya. “Ya, ini masalah penyesuaian saja,” ujar Choky.

Tidak hanya itu kebiasaan buruk Choky yang harus dirubah. “Chaca orangnya rapi. Kalau beres-beres dia cepat. Sementara aku lama kelarnya karena terganggu oleh televisi.” Bila sudah seperti itu, biasanya Chaca hanya menegur Choky.

Hal yang membedakan lainnya, setelah menikah Choky tidak perlu lagi berpenampilan perlente di depan Chaca. “Waktu pacaran kalau ketemu Chaca, aku pake parfum, rambut pake jel. Setelah nikah, mau seperti apa aku, Chaca sudah tahu. Kebiasaan pribadi sebelum menikah, ya aku bawa ke kehidupan rumah tangga. Chaca harus terima itu, aku pun juga harus terima Chaca apa adanya.”

KEJUJURAN DAN KETERBUKAAN

Seperti pasangan lainnya, Choky dan Chaca juga pernah mengalami perselisihan. Saat cekcok, pernah mereka tidak saling berkomunikasi. Namun syukurlah hal itu hanya berlangsung sehari. “Waktu masih pacaran pernah sampai diem-dieman, tapi hanya bertahan paling lama sehari. Besoknya salah satu dari kami akan menghubungi dan minta maaf duluan, tergantung siapa yang merasa salah dan memulai pertengkaran,” papar Chaca.

Terlebih setelah menikah, Choky dan Chaca tidak ingin membawa permasalahan sampai mereka tidur. “Kami enggak mau bawa masalah atau kemarahan sampai kami tidur, seperti firman Tuhan dalam Efesus 4:26,” imbuh Chaca.

Untuk mengantisipasi percekcokan, Chaca mengajak Choky untuk selalu menomorsatukan kejujuran dan keterbukaan. Mereka pun mulai menerapkannya sejak pacaran. “Chaca sangat menomorsatukan kejujuran dan keterbukaan. Apa saja harus cerita, enggak ada yang boleh ditutupin, dia akan sangat bisa terima,” terang jemaat GBI New Wine International Bellezza Permata Hijau, Jakarta.

Namun pernah suatu waktu Choky melanggar prinsip tersebut. “Waktu itu aku enggak cerita sesuatu yang urgent untuk dibagikan sama pasangan. Aku bilang ke dia, alasan aku tidak cerita karena lupa, takut kalau kamu marah. Ternyata sikapku malah membuat masalah jadi besar.”

Belajar dari pengalaman tersebut, Choky mulai merubah sikapnya untuk selalu jujur dan terbuka kepada Chaca. Ternyata, Choky tidak sekadar berubah, ia juga selalu menekankan kepada Chaca untuk terbuka dalam hal apapun, entah itu masalah keluarga, hubungan, dan pekerjaan. “Aku justru mau support Chaca dalam doa.”

Selain mengutamakan kejujuran dan keterbukaan, Choky dan Chaca selalu menerapkan komunikasi yang intens lewat telepon dan SMS. Terlebih pekerjaan Choky sebagai public figure menuntut mobilitas yang tinggi.

Sumber : Bahana

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s