Kasih Tuhan melampaui janji manusia


Pernahkah engkau berjanji pada seseorang? Aku pernah. Dan aku percaya setiap orang pun pasti pernah berjanji. Janji adalah hutang, itu peribahasa dunia. Aku berhutang pada orangtuaku, bahwa aku tidak akan menjadi orang kristen. Dulu, aku menganut agama budha, aku rajin ke wihara, mengikuti ibadah-ibadah agamawi. Keluarga besarku bukan penganut agama budha, tapi ada yang sudah menganut agama kristen ataupun katolik. Tapi orangtuaku masih penganut agama budha, mungkin tepatnya konghucu.

Setelah tamat kuliah, aku hendak pergi merantau untuk mengadu nasib disana. Aku ingin hidup mandiri. Kebetulan daerah yang ingin aku pergi adalah tempat salah satu saudaraku yang sudah hidup menetap disana. Surabaya, itulah kota tujuanku.

Sayang, keinginanku ini ditolak oleh keluargaku. Alasan mereka adalah mereka kuatir aku pindah agama. Karena saudaraku yang disana adalah orang kristen. Orangtuaku kuatir aku terpengaruh dengan saudaraku disana. Cukup logis pikirku. Selama ini orang kristen dianggap fanatik dan mempunyai nilai pandangan yang keras. Orang kristen banyak larangannya dan dianggap tidak menghormati leluhur .

Tapi, bagaimana, aku sudah jatuh hati dengan kota Surabaya. Aku ingin bisa berangkat kesana. Ada daya tarik kota Surabaya dipandanganku. Aku harus berusaha agar tetap bisa kesana. Apalagi sebentar lagi aku ada interview kerja disana. Yah,aku sudah melamar kerja disana. Jadi, sudah pasti aku tidak akan hidup menganggur setelah disana. Hari lewat hari terasa amat lama. Aku terus berusaha memberi pengertian pada orangtuaku, tapi mereka masih menolak. Lalu, aku berpikir, lebih baik aku coba membuat janji dengan orangtuaku, bahwa aku tidak akan pindah agama dengan alasan apapun. Bila dalam setahun aku pindah agama, maka aku akan kembali ke daerah. Aku rasa cukup masuk akal perjanjian itu. Toh, bila dalam setahun aku pindah agama, berarti aku sudah menanam keinginan pindah agama itu sudah lama, dan Surabaya hanyalah alasan yang aku buat-buat. Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku menyampaikan perjanjian itu kepada orangtuaku. Dan, ternyata, beruntunglah aku, orangtuaku setuju! Hatiku meluap kegirangan. Aku bisa berangkat. Tidak menunggu hari, aku mulai berkemas.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Aku berangkat juga akhirnya. Orangtuaku memang berat melepaskan aku, namun aku berhasil membuat mereka tenang dengan janjiku. Dan aku memang sungguh-sungguh berjanji tidak akan pindah agama. Karena memang aku pun tidak tertarik untuk pindah agama.

Singkat cerita, aku tiba di kota Surabaya ini. Dan tinggal menetap seberang rumah dengan saudaraku. Sampai dikota Surabaya, aku langsung mengikuti tes wawancara masuk kerja. Waktu terasa cepat berlalu, kini aku sudah bekerja di salah satu bank swasta terkenal. Selama disana, banyak godaan yang datang. Bukan godaan hidup foya-foya atau apapun, tapi godaan pindah agama. Hampir setiap saat orang-orang mengajakku pergi ke gereja. Pergi ke gereja si A , gereja si B, tapi semua aku tolak dengan halus. Aku beritahu mereka bahwa kepercayaanku adalah budha, dan tidak tertarik ke gereja. Beberapa lama aku kembali tenang, karena sudah tidak ada yang memaksaku lagi. Tapi tidak lama, setelah lewat beberapa hari, mereka kembali mengusikku, dan aku akhirnya kesal dan marah pada mereka. Bukannya membuka hati, tapi aku justru membentengi diriku dengan kuat. Aku tolak mentah-mentah ajakan mereka. Aku sudah janji pada orangtuaku, dan akan aku tepati janjiku.

Sampai suatu ketika, aku lupa dimana dan bagaimana ceritanya, hatiku dijamah oleh Tuhan. Tiba-tiba saja hatiku luluh dan merasakan damai sejahtera. Belum pernah aku merasakan perasaan ini, begitu damai dan tenang. Inikah rasanya bertemu dengan Tuhan? Benarkah Dia itu Tuhan? Banyak pertanyaan yang timbul dihatiku. Dan aku tergerak untuk datang ke gereja. Mungkin disana terjawab segala pertanyaanku, itu pikirku. Tanpa paksaaan orang lain, akhirnya aku pergi kegereja. Hingga kini aku merasa bersyukur aku telah bertemu dengan Tuhan. Aku dapat mengalami kuasa kasihNya, damai sejahteraNya, sukacitaNya, dan kekuatan yang baru dari Dia. Aku bersyukur pada Tuhan. Tuhan tidak melihat latar belakangku, kekerasan hatiku, tapi Dia menunjukkan kasihNya padaku. Dia itu sabar menghadapiku, penolakanku, dan janjiku. Dia memperhatikanku. Dia tidak jauh dariku, tapi Dia mengerti aku, mengerti bahwa aku terikat janji dengan orangtuaku. Dia buka jalan agar aku terbebas dari janji itu, dan pada akhirnya orangtuaku setuju aku pindah agama. Dengan persetujuan dari orangtuaku, aku akhirnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadiku. Sungguh dasyat dan ajaib perbuatanNya. Tidak pernah aku menyangka bahwa orangtuaku dapat setuju aku mengikuti Yesus. Janji atau hutang itu sudah dibayar lunas oleh Yesus diatas kayu salib. Aku sudah tidak punya hutang apa-apa lagi, bahkan hutang dosapun sudah dibayar lunas oleh Dia. Dia yang mati buat aku dan bangkit buat aku. Kasih Tuhan melampaui segala janji-janji manusia.
Amin

Satu pemikiran pada “Kasih Tuhan melampaui janji manusia

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s