Bersama Tuhan, indah hidupku


Sudah 10 tahun aku tinggal di Surabaya. Aku rindu pada kampung halamanku, terutama orangtuaku. Waktu sangat cepat berlalu, orangtuaku sudah mulai tua. Banyak rambut putih menandakan usia mereka yang sudah mulai larut. Aku ingin hidup bersama mereka, menjaga mereka dan menghibur mereka. Sudah cukup aku mengadu nasib disini. Saatnya untuk pulang.

Aku pun mengajukan surat permohonan mutasi tempatku bekerja. Dengan harapan mereka dapat memindahkan ku ke tempat cabang Palembang. Besar harapanku , tapi sayang permohonanku ditolak. Yah, sudah, mungkin saatnya belum tepat, pikirku. Aku mulai berdoa, mungkin biar Tuhan yang buka jalan buatku.

Berselang beberapa bulan, aku kembali mengajukan surat permohonan mutasi yang kedua. Dari kabar yang ku dengar, mutasi itu tetap ditolak. Aku kecewa dan sedih sekali.Aku mulai berpikir kenapa mutasiku selalu ditolak? Apa alasannya? Ternyata alasannya, belum ada lowongan di Palembang, jadi harus menunggu sampai ada kabar disana.

Tak berapa lama kemudian, bank tempatku bekerja akan mengadakan ujian untuk gelar kabag (kepala bagian). Aku pun mulai sibuk mempersiapkan diri. Untuk sementara aku harus melupakan dulu soal mutasiku dan konsentrasi pada ujian ini. Tanggal 24 juli 2010, ujian pun dilakukan. Pesertanya ada 450 orang, dan cukup ketat kriteria calon. Hasil akan diumumkan satu bulan kemudian. Selama waktu menunggu ini, cara kerja kami pun tetap dipantau. Aku berdoa pada Tuhan, semoga lulus ujian ini, karena menyangkut masa depanku.

Satu bulan kemudian, hasil keluar. Dan aku dinyatakan lulus. Aku senang sekali. Aku merasa terhibur dari kekecewaan soal mutasi. Kelak, bila jadi pindah ke Palembang, maka jabatanku adalah kepala bagian. Aku terus berdoa minta pertolongan Tuhan. Aku tidak tau apa rencana Tuhan dalam hidupku, tapi aku berusaha berserah padaNya. Hingga suatu ketika aku mendengar kabar bahwa dibuka lowongan mutasi ke Palembang. Aku langsung mengajukan surat permohonan mutasi yang ketiga. Rasanya hati ini tidak sabar menunggu hasilnya.

Tapi…sayang, suratku ditolak kembali. Aku menangis karena kecewa. Apakah aku tidak dapat berkumpul dengan orangtua ku? Apakah aku harus menghabiskan waktuku di tempat yang jauh dengan orangtuaku? Bilakah waktu itu tiba? Ataukah tidak akan tiba? Lalu, aku memutuskan untuk bertanya lebih lanjut alasan penolakan tersebut. Dan ternyata alasannya adalah karena saudaraku sudah banyak yang kerja dikantor cabang Palembang, jadi mereka tidak bisa menerimaku lagi. Jumlah persyaratan hubungan kerabat sudah mencapai maksimum. Artinya, aku tidak ada kesempatan lagi pindah kesana. Betapa sedih dan menyakitkannya mendengar kabar itu. Sudah tertutup peluang pindah ke Palembang.

Setelah kupikir-pikir, masih ada satu jalan agar aku tetap bisa pulang Palembang, yaitu mengundurkan diri. Awalnya terasa berat ketika aku memikirkannya. Namun demi orangtuaku, akan aku lakukan, sekalipun harus dengan cara demikian.

Akhirnya aku pun mengundurkan diriku dari tempat aku bekerja. Semua orang menyayangkan hal itu, tapi aku sudah tidak peduli, karena aku sangat ingin berkumpul dengan orangtuaku. Semakin mendekat hari terakhirku bekerja, hatiku bukan terasa berat, tapi justru merasa ringan. Aku semakin percaya dan yakin keputusanku tepat. Hati ini terasa plog dan damai. Aku telah menunjukkan prestasi kerja yang baik selama kerja dibank tersebut(khususnya) dan Surabaya (umumnya), bahkan lulus ujian kabag. Itu cukup bagiku. Aku telah menang di kota Surabaya. Dan tidak malu untuk pulang Palembang, kembali kepada orangtuaku, karena aku telah mengantongi gelar kabag(kapala bagian).
Indah sekali rancangan Tuhan buatku. Dalam keputusanku untuk meninggalkankota Surabaya, Dia masih mengingat aku, dan membuat segalanya menjadi indah. RancanganNya sungguh melampaui pikiran manusia. Sungguh dasyat perbuatanNya. Oleh karena Dia, aku telah menang. Dan aku pun dapat kembali ke Palembang, memenuhi panggilan hidupku selanjutnya. Indah…sungguh indah Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s